Salah satu tradisi etnis Tionghoa adalah upacara kematian. Dalam tradisi etnis Tionghoa, saat orangtua meninggal pada umunya dibawa ke ruang tamu. Saat jenazah dipindahkan orang yang memindahkan hanya boleh menyentuh salah satu bagian dari tubuh jenazah.
Setelah ikut terlibat dalam pemindahan jenazah, orang tersebut harus membersihkan dirinya dengan cara mandi dan ganti pakaian semata-mata karena alasan kebersihan ( mencegah bakteri jenazah menyebar).
Fakta dan Mitos seputar Tradisi Kematian Etnis Tionghoa
Kenapa setelah melayat (Sang Seng), kita harus mencuci muka, tangan, dan kaki sebelum masuk rumah ?
FAKTA
- supaya bersih
- setelah melayat, kita tidak boleh berkunjung ke tempat lain, melainkan harus langsung pulang rumah dan mandi
- saat jenazah dipindahkan, pengunjung harus melihat ke arah timur karena arah timur adalah arah matahari terbit sehingga melambangkan kehidupan baru.
MITOS
- setelah melayat, pelayat tidak boleh kemana-mana karena takut diikuti oleh hantu si jenazah
- saat jenazah dipindahkan, pengunjung tidak boleh melihat ke arah jenazah karena takut dapat mimpi buruk akan hantu si jenazah.
SESI TANYA JAWAB
Tanya : Kenapa kalau orang meninggal dan lewat di depan rumah warga harus disirami air setiap depan rumah yang dilewati ?
Jawab : Tidak ada tradisi Etnis Tionghoa yang melakukan hal tersebut, tetapi anggota keluarga tersebut harus melempari kertas sembahyang (Gincoa) bukan dengan air atau warga yang menyiraminya
Tanya : Kenapa ada anggota yang harus memakai pakaian terbalik saat ada anggota keluarga yang meninggal ?
Jawab : Itu juga bukan tradisi Etnis Tionghoa, melainkan hanya merupakan simbol ungkapan pembedaaan keluarga kepada masyarkat bahwa sedang berduka/ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Tanya : Dalam hal pembagian harta warisan orang yang meninggal, apakah semua anggota keluarga harus/pasti mendapatkan bagiannya ?
Jawab : Secara aturan Etnis Tionghoa, hanya anak laki-laki saja yang mendapatkan harta warisan itu. Sedangkan anak perempuan tidak berhak karena setelah ia menikah, ia akan ikut suaminya. Akan tetapi, itu juga tergantung kebijakan sang pembagi warisan.
Ko Rudi Arijanto on FB
Setelah ikut terlibat dalam pemindahan jenazah, orang tersebut harus membersihkan dirinya dengan cara mandi dan ganti pakaian semata-mata karena alasan kebersihan ( mencegah bakteri jenazah menyebar).
Fakta dan Mitos seputar Tradisi Kematian Etnis Tionghoa
Kenapa setelah melayat (Sang Seng), kita harus mencuci muka, tangan, dan kaki sebelum masuk rumah ?
FAKTA
- supaya bersih
- setelah melayat, kita tidak boleh berkunjung ke tempat lain, melainkan harus langsung pulang rumah dan mandi
- saat jenazah dipindahkan, pengunjung harus melihat ke arah timur karena arah timur adalah arah matahari terbit sehingga melambangkan kehidupan baru.
MITOS
- setelah melayat, pelayat tidak boleh kemana-mana karena takut diikuti oleh hantu si jenazah
- saat jenazah dipindahkan, pengunjung tidak boleh melihat ke arah jenazah karena takut dapat mimpi buruk akan hantu si jenazah.
SESI TANYA JAWAB
Tanya : Kenapa kalau orang meninggal dan lewat di depan rumah warga harus disirami air setiap depan rumah yang dilewati ?
Jawab : Tidak ada tradisi Etnis Tionghoa yang melakukan hal tersebut, tetapi anggota keluarga tersebut harus melempari kertas sembahyang (Gincoa) bukan dengan air atau warga yang menyiraminya
Tanya : Kenapa ada anggota yang harus memakai pakaian terbalik saat ada anggota keluarga yang meninggal ?
Jawab : Itu juga bukan tradisi Etnis Tionghoa, melainkan hanya merupakan simbol ungkapan pembedaaan keluarga kepada masyarkat bahwa sedang berduka/ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Tanya : Dalam hal pembagian harta warisan orang yang meninggal, apakah semua anggota keluarga harus/pasti mendapatkan bagiannya ?
Jawab : Secara aturan Etnis Tionghoa, hanya anak laki-laki saja yang mendapatkan harta warisan itu. Sedangkan anak perempuan tidak berhak karena setelah ia menikah, ia akan ikut suaminya. Akan tetapi, itu juga tergantung kebijakan sang pembagi warisan.
Ko Rudi Arijanto on FB

0 komentar:
Posting Komentar